Anggota DPR: Harga Daging Sapi Naik karena Ulah Spekulan

Jakarta – Tingginya harga daging sapi saat ini diduga akibat permainan distributor yang nakal melakukan spekulasi menahan stok daging. Mereka memanfaatkan kebijakan pemerintah menekan daging impor.

Hal ini disampaikan oleh Anggota DPR RI Komisi IV Ma’mur Hasanuddin dalam keterangannya yang dikutip, Senin (19/11/2012).

“Jika kuota impor sapi yang dipermasalahkan oleh pengusaha terkait kelangkaan daging sapi maka sesungguhnya pendapat itu kurang tepat, karena kondisinya saat ini tercatat mencukupi hingga akhir tahun. Kelangkaan daging sapi saat ini terjadi karena spekulasi yang dilakukan oleh sebagian distributor sehingga mengganggu tata niaga daging sapi di tingkat konsumen,” tegas Ma’mur.

Memang langkanya daging sapi di tingkat pedagang satu pekan terakhir telah menyebabkan melonjaknya harga daging di pasaran dan mogok massal pedagang tak berjualan. Pengusaha memandang hal ini terkait kebijakan Kementerian Pertanian yang memangkas kuota daging sapi impor secara radikal, yakni dari kuota sebesar 100.000 ton pada 2011 hanya menjadi 34.000 ton pada 2012.

Dijelaskan Ma’mur, kenaikan harga daging dari distributor sudah terjadi sejak sepekan lalu, dari Rp 70.000/kg naik jadi Rp 85.000/kg. Bahkan hari Jumat lalu naik lagi menjadi Rp 90.000/kg. Tingginya harga daging ini dianggap pedagang menjadi penyebab lesunya pasar karena konsumen enggan berbelanja.

Ma’mur mengingatkan, impor sapi bakalan daging selama 10 tahun terakhir ini telah meningkat tajam, sehingga langkah pemerintah untuk membatasi impor sudah tepat.
Pada 2000, impor sapi bakalan mencapai 200 ribu ekor, daging dan jeroan setara 40 ribu ton. Angka ini melonjak drastis pada akhir 2008 yaitu impor sapi bakalan mencapai 600 ribu ekor, daging dan jeroan 70 ribu ton. Apabila situasi ini tidak dibenahi maka diperkirakan di 2014 hampir 50% sapi potong dalam negeri didominasi oleh sapi impor.

“Pemerintah perlu menertibkan dan menindak tegas distributor yang melakukan spekulasi dan mempermainkan harga daging sapi di pasaran, jika perlu mencabut izinya. Perlu usaha dan kerjasama yang sungguh-sungguh guna mewujudkan pencapaian swasembada sapi 2014,” tegas Ma’mur.

Kebijakan pengendalian impor harus terus dilakukan karena impor sapi potong dapat menguras devisa negara dan menimbulkan dampak yang bersifat efek domino yaitu menghambat pendapatan dan produktivitas peternak dalam negeri. Selain itu akan menghilangkan kesempatan dalam menciptakan lapangan kerja baru dan menghambat program-program pengentasan kemiskinan.

“Kelangkaan ini sebenaranya cukup mengherankan karena tidak ada momentum atau event hari besar yang menyebabkan konsumsi daging sapi meningkat. Sangat dimungkinkan kelangkaan terjadi akibat adanya aksi menyimpan stok dari sebagian pihak untuk mempengaruhi harga pasar dan menciptakan iklim yang tidak kondusif dalam usaha penekanan angka importasi,” ungkap Ma’mur.

Impor untuk konsumsi domestik diharapkan hanya berkisar 10% dari total kebutuhan nasional dan itupun hanya untuk memenuhi segmen pasar tertentu saja yang memang tidak dapat diisi oleh daging lokal.

Sektor ritel usaha sapi potong merupakan sektor yang mata rantainya sangat panjang, pada kenyataannya peternak (sektor hulu) hanya menikmati 40% dari harga pasar konsumen. Ini menunjukan bahwa sebagian besar keuntungan dinikmati oleh pedagang dan tidak proporsional. Kondisi ini harus dirubah, melalui pemberdayaan peternak agar usahanya mencapai skala ekonomi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s